Kamis, 13 April 2017

Friend


I used  to have this imaginary friend, normal kid stuff right? My mom said so. I'd tell her about the things I did with her, and she'd pass it off as cute. One day she decided to ask for my friends name, trying to indulge in her kid's interests like a good parent. But when I told her, I'll never forget how much fear crossed her face, complete dread. She could've passed as dead she was so motionless. All  I said was, "oh, she's Pontianak."

I had to start whaling and crying to reanimate my mother. Apparently that was the name of my mom's "imaginary" friend too, the one she claimed as a kid to responsible for the dismemberment of her mother. I only wish I had questioned more why Pontianak cooked me dinner later that night, and why it tasted so weird, I should've never taken "Don't complain and eat your food" for an answer. Instead of finding a burned version of my mom's tattoo in my meal

Indonesian:
Aku pernah mempunyai teman imajinasi. Normal, kan bagi anak kecil? Ibuku juga mengatakan semacam itu. Aku mengatakan semua yang aku lakukan bersama temanku itu pada ibuku, dan ibuku menganggap itu hal yang lucu. Suatu hari ibu bertanya tentang nama temanku itu, mencoba menyenangkan hati anak seperti yang biasanya dilakukan orangtua yang baik. Tapi ketika aku mengatakannya, aku tidak lupa pada raut ketakutan pada wajahnya. Benar-benar pucat pasi.Dia seperti orang mati, tidak bergerak. Yang aku katakan saat itu adalah, "Oh, namanya Kuntilanak."


Aku mulai memukul-mukul ibuku, mencoba membuatnya hidup kembali. Tampaknya nama itu juga adalah nama ibu dari teman imajinasiku juga, yang bertanggung jawab terhadap pemotong-motongan ibunya. Aku hanya berharap masih dapat bertanya kenapa Kuntilanak memasak makanan malam itu dan mengapa rasanya agak aneh. Aku tidak seharusnya menelan mentah-mentah jawaban , "Jangan mengeluh dan makan makananmu." karena menemukan tato ibuku yang matang di makananku.

Friend Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar